Perhatian! Jangan merasa lelah untuk membaca blog saya, karena terkadang jalan kita memang butuh proses yang panjang.
Pada postingan kali ini saya akan menceritakan tentang bagaimana saya tumbuh menjadi perempuan 21 tahun. Mejadi perempuan itu tidak seindah bagaimana kebanyakan orang-orang menganggap perempuan sebagai makhluk yang indah. Dibalik itu perjalanan para perempuan adalah makhluk yang memiliki banyak resiko dan tantangan termasuk saya. Ah tapi itu ceritanya nanti saja ceritanya. Sebelumnya, saya ingin berterimakasih kepada orang tua saya yang telah bersedia menjadi orang tua saya selama ini 😊
Aku lahir ke dunia pada tanggal 03 Februari 1996 di Sleman, D.I Yogyakarta dan diberi nama Astika Rahmadhani Pradibta. Nama panggilanku banyak sebenarnya, bisa Dibta, Dita, dan Astika. Sesuka teman-teman saja sih mau memanggilku apa asal relevan yaaa. Aku adalah anak ketiga dari 3 bersaudara dan aku punya kakak kedua perempuan yang bernama Vemmy dan kakak tertua laki-laki yang bernama Windhi.
Aku itu sebenernya anaknya aktif banget. Belum genap satu tahun aku bahkan udah bisa berlari. Ini nih aku punya foto-foto waktu kecil.



Aku lahir dari keluarga yang sederhana, sebenarnya keluargaku tidak begitu berbeda pada keluarga-keluarga pada umumnya.  Cuman memang Bapak aku selalu mengutamakan unggah-ungguh (dalam bahasa jawa yang berarti kesopanan) dan Bapak aku selalu mengingatkan kepadaku sampai sekarang hormatilah orang tua siapapun itu. Dari situ, walaupun lingkungan rumahku itu terbilang tidak baik, karena kalau kalian tau banyak (tapi tidak semua) kejadian anak-anak kampung rumahku tertangkap polisi yang laki-laki dan yang perempuan hamil diluar nikah. Miris. Tapi alhamdulillah kedua orang tua ku membesarkan aku dengan baik.
                Aku disekolahkan di sekolah dasar yang terbilang favorit, selain itu juga dekat rumah. Jadi, kebanyakan juga teman-teman SD ku juga tetanggaku. Sehingga jaringan pertemanan sewaktu aku SD sangat mendunia sekampung bener. Hehe. Masa SD ku begitu menyenangkan, masa dimana belum ada gadget dan sabrek game game addicted itu. Naik pohon, mencari ikan di sungai, pasaran, barbie-barbien menggunakan batang pepaya, menjelajah desa-desa, sampai bermain-main disawah orang haha.
Orang tuaku  tidak membatasiku dalam bermain. Mereka sadar bahwa anak-anak adalah masa dimana mereka tidak harus begitu dikekang dengan akademik. Karena itu semua akan ada masanya bukan sekarang (saat SD).  Tetapi tetap ada aturannya, karena aku perempuan. Sepulang sekolah aku setidaknya harus membantu orang tua terlebih dahulu, dan kemudian bermain sampai sore. Pokoknya bolang banget!
                Lulus SD aku disekolahkan di SMP. Maka kebiasan ku yang suka bermain panas-panasan sampai dulu aku itu item banget. Mulai beranjak remaja, udah tau yang namanya gengsi, yang namanya suka sama lawan jenis. Hehe. Maka dari itu aku mengurangi bermainku dan aku pun sudah terpisah sekolah dari temen-temen SD ku dulu. Kemudian setelah lulus SMP, bimbang memilih antara SMK atau SMA. Tapi kemudian pilihan tertuju kepada SMK, karena apabila besok tidak dapat melanjutkan kuliah aku bisa langsung kerja. Lagipula kalau ingin mendaftar kuliah dari SMK pun juga bisa.
                Masa SMK bisa dibilang masa emas ya, karena di SMK hidup akademisku mulai berwarna. Dari tiba-tiba jadi ikut ROHIS, kemudian ikut organisasi anti penyalahgunaan narkoba (kovenanza) sampai dari organisasi tersebut akupun mendapat juara harapan 2 sebagai duta anti penyalahgunaan narkoba tingkat kota yogyakarta. Pengalaman tersebut membuatku belajar banyak, pengetahuan tentang penyalahgunaan narkoba, teman baru dari berbagai SMA/SMK lalu orang-orang dari BNK dan teruma yang juga berkesan dapat mengunjungi  UPT Pusat Rehabilitasi LIDO Bogor. Pengalaman berkunjung disana benar-benar tidak bisa dilupakan. Selanjutnya tak berhenti sampai disitu seusai lomba tersebut kami para 10 besar duta dibagi-bagi untuk mensosialisasikan tentang narkoba dan penyalahgunaan nya ke SMP-SMP di Yogyakarta.
                Hidup memang tidak selamanya manis, paling tidak itu yang orang-orang bilang. Bedanya kali ini aku yang harus merasakan kepahitan itu. Waktu aku berada di kelas 3 dan lulus SMK, keponakanku jatuh sakit dan harus menelan banyak biaya. Aku harus merelakan kuliah dan saat itu aku sedikit putus asa. Cita-cita ku adalah ingin kuliah dan sambil kerja. Tapi ternyata Allah berkata lain, tidak tahun ini. Akhirnya aku memutuskan untuk bekerja disalah satu tempat belanja dan sembari bekerja aku sedikit demi sedikit belajar SBMPTN mencuri-curi waktu disela-sela selesai bekerja. Setahun berlalu. Disaat aku mulai putus asa karena ada pengumuman akan diadakan SBMPTN (ujian masuk perguruan tinggi) orang tuaku mendukungku untuk kuliah. Dan akhirnya aku mendaftar SBMPTN dengan jurusan yang pertama manajemen, kedua pendidikan administrasi, ketiga ilmu perpustakaan.
                Saat pengumuman tiba, memang hasil tidak pernah berbohong. Walaupun aku tidak diterima di pilihan pertama tapi aku diterima di jurusan ilmu perpustakaan. Sebelumnya memang aku sudah mencari-cari apa itu jurusan ini. Ada beberapa mata kuliah yang membuatku akhirnya memilih jurusan ini sebagai jurusanku kelak. Memang kecewa tidak diterima di jurusan pertama tapi aku bersyukur dan aku sadar menjadi pustakawan adalah pekerjaan yang mulia.
                Selanjutnya aku menjalani kuliah dengan baik. Cita-citaku untuk kuliah sambil kerja pun dapat tercapai, karena memang aku tidak ingin merepotkan beban keluarga dengan finansial. Lagipula sensasi dari membelanjakan hasil uang sendiri daripada meminta orang tua itu berbeda ya. lebih menyenangkan tidak perlu merepotkan orang tua kalau perlu mah kita yang ngasih orang tua. hehe. Dari semester 3 setiap sore dari jam 5 sore sampai 8 malam aku sudah bekerja freelance menjadi guru les (anak TK sampai SD) hingga sekarang. Dan saat ini aku sudah di semester V yang berarti tinggal 3 semester lagi untuk aku lulus dan kemduian bekerja. Dari awal semester sampai dengan semester V ini aku manfaatkan dengan baik. Semester satu aku sudah mengikuti organisasi dari mulai KOPMA UIN SUKA sebagai staff bidang usaha, kemudia di semester ketiga mengikuti juga ALUS (asosiasi mahasiswa ilmu perpsutakaan), sampai kemudian di semester V ini saya dapat bergabung menjadi keluarga Cendi yang mana Cendi ini bukan UKM atau organisasi mahasiswa. Namun CendiI ini dibawah naungan langsung dari kampus di bidan labiratorium kampus. Sehingga menjadi hal yang sangat membanggakan juga buat saya dapat menjadi salah satu keluarga mereka.
                Berkah  Allah begitu luar biasa dalam hidup aku. Allah terus memberikan berbagai pelajaran yang dapat membuatku lebih baik dalam hidup aku. Aku yakin apa yang telah terjadi kepada keluarga di masa laluku telah membuat aku ditempat dan dilatih sehingga aku dapat menjadi Astika yang tahan banting mulai dari sekarang. Inilah kisah hidupku yang akan ku ceritakan ke temen-temen. Aku menceritakan ini bukan untuk menyombongkan diri tapi semoga apa yang terjadi dihidup aku bisa menjadi pengalaman yang bermanfaat.
Dan akhri kata terimakasih sudah meluangkan waktunya untutk membaca blog saya ini.   
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Followers

 
Astika Rahmadhani Pradibta © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top